Artikel >> Tanggapan Kritis

1.Dari Sudut Pandang Sosial Ekonomi

Banyak temuan-temuan berupa permasalahan yang dijumpai oleh tim di sekitar Danau Toba contohnya di Pangururun, kekeringan menjadi salah satu kendala ekonomi buat mereka. Menurut tua-tua dikampung itu yang salah satu darinya adalah br. Situmorang yang sudah hampir berumur (70 tahun) dan seorang lagi yang bermarga Sitanggang (60 tahun) menyatakan bahwa kesulitan mereka dalam bidang pertanian adalah masalah irigasi. Kemudian hasil panen padi mereka sering gagal diakibatkan oleh karena sudah hampir 4 bulan hujan tidak pernah turun, sehingga semua tanaman yang mereka tanam gagal, contohnya padi. Hasil padi yang mereka panen ukuran buahnya kecil-kecil dan tidak layak dikonsumsi (dalam bahasa batak namanya disebut monis). Hal itu punya dampak yang besar sekali khususnya di segi usaha (baik di dunia usaha kedai kelontong maupun di dunia perdagangan antar pekan-pekan).
www.saduwatu.wordpress.com

Padahal dari segi luas areal pertanian, jauh dari layak mencukupi kebutuhan sehari-hari. Tetapi oleh karena musim panen yang gagal itu terpaksalah mereka dituntut untuk mencari lapangan pekerjaan yang lain. Disinilah menurut mereka pentingnya peran serta Perda demi pengembangan suatu usaha untuk membangun daerah tersebut.

Yang menjadi pertanyaan adalah apakah karena kesulitan ekonomi yang mereka alami sehingga kesadaran masyarakat sangat kurang dalam kecintaan terhadap lingkungan. Mungkin mereka tidak menyadari bahwa itu ada pengaruh timbal balik. Bila ekosistem baik maka cuaca dan curah hujan juga akan teratur yang pasti akan mempunyai pengaruh yang sangat baik terhadap usaha pertanian. Bila dahulu Danau Toba masih alamiah, hijau karena banyak pohon-pohon di lereng-lereng bukit yang mengelilingi Danau Toba sekarang sudah berubah menjadi danau yang dikelilingi oleh lahan yang tandus dan gersang. Itu pastilah akibat dari penebangan hutan yang sama sekali tidak bertanggungjawab. Mereka itu adalah manusia yang tuli dan telah mati rasa tanpa kesadaran sosial memandang generasi ke depan.

Satu hal lagi yang memperihatinkan yaitu dalam bidang kerajinan tangan, kenapa? Karena begitu bagusnya hasil kerajinan, juga begitu mahir masyarakat pulau samosir untuk menghasilkan kerajiana-kerajinan tangan seperti ulos, pernak-pernik, dan kerajianan-kerajian tangan lain yang menampakkan ciri khas orang batak, tetapi masih mengalami permasalahan menyangkut pemasaran. Bila produksi sudah ditangani secara profesional sedangkan pemasaran belum pernah digubris baik lembaga sosial (baik LSM maupun gereja) itulah yang membuat kenapa masyarakat menjadi miskin. Itu terlihat dari masih banyak rumah-rumah kelihatan sangat kecil dan tidak terurus ketika eksposure kebeberapa kota Simanindo, Tomok, Tuktuk khususnya Pangururan yang serba semrawut.

Inilah salah satu penyebab kenapa para pengrajin -pengrajin tidak begitu tertarik untuk menghasilkan karya seni mereka berupa tenunan ukir-ukiran dan kerajinan tangan lainnya. Seperti yang kita lihat di sepanjang tomok, hampir seluruh tempat itu menjadi grosir-grosir jualan baju dan pernak pernik. Tapi yang bahan sorotan kebanyakan yang dijual disana bukan hasil kerajinan tangan, seperti ulos, baju dari hasil tenunan, tapi baju-baju yang dipasok dari luar dan hanya mensablon tulisan danau toba saja di baju tersebut.

. Padahal pengunjung yang datang ke Danau Toba tidak lagi begitu banyak, apalagi pengunjung-pengunjung turis manca negara sudah jarang, menurut masyarakat di sana penyebab utama turis manca Negara berkurang dari waktu-waktu sebelumnya, penyebabnya karena seringnya terjadi terror di Indonesia, apalagi pemboman yang terjadi baru-baru ini, yaitu peledakan hotel JW Marriot dan Riltz Calton, setelah terjadinya aksi anarkis tersebut, wisatawan manca Negara semakin hari semakin berkurang berlibur ke Indonesia. Dan tentunya danau toba juga akan sepi pengunjung. Memang kita lihat perekonomian sudah lumayan dibanding daerah-daerah lain di sumatera utara, tapi bila dibandingkan dengan lokasi wisata yang lain, pednduk danau toba sangat jauh ketinggalan dibanding daerah lokasi wisata yang lain.

Upaya untuk menambah income tersebutlah agaknya mengapa masyarakat disana berpikiran untuk membuat kerambah ikan. Memang usaha ini mempunyai dua sisi ada sisi negatifnya dan ada juga sisi positifnya. Sisi negatifnya memang dapat mencemarkan dan merusak keindahan danau toba, tapi disisi positifnya ekonomi masyarakat disana sangat terbantu karena sebahagian besar masyrakat disana mengelola usaha peternakan ikan. Selain kerambah masyarakat disana juga mengelola di bidang perdagangan seperti kios-kios makanan dan minuman.

Tetapi di sisi lain harus juga dipertimbangkan jawaban untuk pertanyaan mengapa orang batak itu miskin. Menurut pengamatan tim boleh jadi mereka tidak miskin. Ada pepatah orang batak yang mengatakan “Anakhon I do hamoraon di ahu” yang artinya kekayaan bagiku adalah anakku. Orang batak boleh saja menghabiskan segala-galanya demi kepentingan yang namanya anak. Mereka berlomba-lomba mengangkat harkat anaknya sampai tingkat perguruan tinggi termahal. Kalau ditinjau dari segi penampilan rumah dan fasilitas yang ada di dalamnya memang bias saja kelihatan kumuh. Tetapi ini semuanya adalah karena uangnya habis dikirm untuk uang kuliah dan fasilitas lain bagi anaknya yang sedang menuntut ilmu di kota-kota besar seperti Medan, Surabaya, Bandung dan Jakarta. Anaknya boleh saja pakai sepeda motor, komputer, laptop dan peralatan elektronik lainnya yang serba mewah sementara orangtuanya yang tinggal di desa kelihatannya hanya memiliki sebuah gubuk derita dengan fasilitas yang serba minim. Dari income perkapita mereka tergolong berpenghasilan tinggi tetapi penampilan luar desa begitu sangat kumuh, itulah orang batak. Pertanyaannya adalah apakah mereka tergolong miskin atau kaya? Jawabannya tergantung kita memakai sisi pandang yang mana

Selengkapnya klik di sini
www.saduwatu.wordpress.com